Tafsir Al – quran : Surat Albaqarah Ayat 1 – 5

Assalamualaikum wr wb.

Dalam postingan ini dan insyaa allah akan berlanjut pada postingan lainnya setiap hari atau dua hari sekali saya akan posting tafsir Al – quran beserta kandungan dan penjelasannya. Sekali lagi bukan bermaksud menggurui ya, saya hanya ingin mengingatkan diri sendiri, dan jika memang postingan ini bermanfaat bagi semua orang, alhamdulillah.

                                                                 

                                 Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah, lagi Maha Pengasih. ,


الم
(1) Alif Laam Miim


ذَلِكَ الْكِتَابُ لاَ رَيْبَ فِيْهِ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَ
(2) Inilah Kitab itu; tidak ada sebarang keraguan padanya, satu petunjuk bagi orang-orang yang hendak bertakwa.


الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلاَةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُوْنَ
(3) Yang percaya kepada yang ghaib , dan yang mendirikan sembahyang dan dari apa yang Kami anugerahkan kepada mereka, mereka dermakan.


وَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَ مَا أُنْزِلَ مِن قَبْلِكَ وَ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ
(4) Dan orang-orang yang percaya kepada apa yang di­turunkan kepada engkau dan apa yang diturunkan sebelum engkau, dan kepada akhirat mereka yakin.


أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ
(5) Mereka itulah yang berada atas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yang
beroleh kejayaan.

 

Percaya pada yang ghaib, yang ghaib disini adalah yang tidak dapat disaksikan oleh pancaindera, tidak nampak oleh mata, tidak didengar telinga dan tidak bisa dirasakan. Namun dirasanya oleh akal. Maka yang pertama sekali adalah percaya pada keberadaan Allah SWT, dzat sekalian alam, lantas setelah itu percaya pada adanya hari akhir, hari dimana kehidupan kekal abadi.

Iman artinya percaya, pengakuan hati yang dibuktikan dengan perbuatan yang kemudian diucapkan oleh lisan menjadi suatu keyakinan. Maka iman akan yang ghaib itulah tanda pertama dan syarat pertama untuk menjadi takwa.

Kita sudah sama tahu bahwa manusia itu dua juga coraknya; pertama orang yang hanya percaya kepada benda yang nyata, dan tidak mengakui bahwa ada pula di balik kenyataan ini sesuatu yang lain. Mereka tidak percaya ada Tuhan atau Malaikat, dan dengan sendirinya mereka tidak percaya akan ada lagi hidup akhirat itu. Malahan terhadap adanya nyawapun, atau roh, mereka tidak percaya. Orang yang seperti ini niscaya tidak akan dapat mengambil petunjuk dari al-Qur’an. Bagi mereka koran pembungkus gula sama saja dengan al-Qur’an.

Kedua ialah orang-orang yang percaya bahwa dibalik benda yang nampak ini, ada lagi hal-hal yang ghaib. Bertambah banyak pengalaman dalam arena penghidupan, bertambah mendalamlah kepercayaan mereka kepada yang ghaib itu.

Kita kaum Muslimin yang telah hidup empat belas abad sesudah wafatnya Rasulullah s.a.w dan keturunan-keturunan kita yang akan datang dibelakangpun Insya Allah, bertambah lagi keimanan kepada yang ghaib itu, karena kita tidak melihat wajah beliau.

Itupun termasuk iman kepada yang ghaib. Maka tersebutlah pada sebuah hadits yang dirawikan oleh Imam Ahmad, ad-Darimi, al­Baqawardi dan Ibnu Qani di dalam Majma’ ush Shahabah, dan ikut juga merawikan Imam Bukhari di dalam Tarikhnya, dan At Thabarani dan al-Hakim, mereka meriwayatkan daripada Abi Jum’ah al-Anshari:

“Berkata dia (Abu Jum ‘ah al-Anshari) : Aku bertanya ; ya Rasulu­llah ! Adakah suatu kaum yang lebih besarpahalanya daripada kami, padahal kami beriman kepada engkau dan kami mengikuti akan engkau ?Berkatalah beliau : Apalah akan halangannya bagi kamu (buat beriman kepadaku), sedang Rasulullah ada di hadapan kamu, dan datang kepada kamu wahyu (langsung) dari langit. Tetapi akan ada lagi suatu kaum yang akan datang sesudah kamu, datang kepada mereka Kitab Allah yang ditulis di antara dua Luh, maka merekapun beriman kepadaku dan mereka amalkan apa yang tersebut di dalamnya. Mereka itu adalah lebih besar pahalanya daripada kamu. ”

Dan mengeluarkan pula at-Thayalisi, Imam Ahmad, dan Bukhari di dalam Tarikhnya, at-Thabarani dan al-Hakim, mereka riwayatkan daripada Abu Umamah al-Baihili.

“Berkata dia (Abu Umamah), berkata Rasulullah s. a. w : “Bahagialah bagi siapa yang melihat aku dan beriman kepadaku; dan bahagia (pulalah) bagi siapa yang beriman kepaadaku, padahal dia tidak melihat aku (tujuh kali). ”

Hadist ini dikuatkan lagi oleh yang dirawikan Imam Ahmad, Ibnu Hibban dari Abu Said al-Khudri.

“Bahwasanya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah s.a.w. Bahagialah bagi siapa yang melihat engkau dan berimun kepada engkau. Beliaupun menjawab: Bahagialah bagi siapa yang melihat aku dan beriman kepadaku; dan berbahagialah bagi siapa yang beriman kepadaku, padahal dia tidak melihat aku. ”

Kita tidak melihat wajah beliau. Bagi kita beliau adalah ghaib. Kita hanya mendengar berita dan sejarah beliau atau bekas-bekas tempat beliau hidup di Mekkah, namun bagi setengah orang yang beriman, demikian cintanya kepada Rasulullah, sehingga dia merasa seakan-akan Rasulullah itu tetap hidup, bahkan kadang-kadang titik air matanya karena terkenang akan Rasulullah dan ingin hendak menjadi umatnya yang baik dan patuh, ingin mengerjakan sunnahnya dan memberikan segenap hidup untuk melanjutkan agamanya.

Maka orang beginipun termasuk orang yang mendalam keimanannya kepada yang ghaib.
Maka keimanan kepada yang ghaib dengan sendirinya diturutinya dengan mendirikan sembahyang.

Tegasnya kalau mulut telah tegas mengatakan iman kepada Allah, Malaikat, Hari Kemudian, Rasul yang tidak pernah dilihat dengan mata, maka bila panggilan sembahyang datang, bila azan telah terdengar, diapun bangkit sekali buat mendirikan sembahyang. Karena hubungan di antara pengakuan hati dengan mulut tidak mungkin putus dengan perbuatan.

Waktu datang panggilan sembahyang itulah ujian yang sangat tepat buat mengukur iman kita. Adakah tergerak hati ketika mendengar azan ? Atau timbulkah malas atau seakan-akan tidak tahu ?

Kelak kita akan sampai kepada ayat 45 dari Surat ini, yang diterangkan disana memohon pertolonganlah kepada Allah dengan sabar dan sembahyang, tetapi dijelaskan lagi bahwa sembahyang itu amat berat kecuali bagi orang yang khusyu hatinya. Dan kita akan bertemu lagi di dalam Surat Thaha, (Surat 2.0, ayat 132), yang menyuruh kita mendidik anak istri sembahyang dan memperkuat kesabaran di dalam mengerjakannya, sebab cobaan mengerjakan sembahyang itu banyak pula.

Maka jika waktu sembahyang telah datang dan kita tidak genser (tidak perduli) juga, tandanya iman belum ada, tandanya tidak ada kepatuhan dan ketaatan. Dan itu diujikan kepada kita lima kali sehari semalam.

Kadang-kadang sedang kita asyik mengobrol, kadang­kadang sedang asyik berapat; bagaimanakah rasanya pada waktu itu: kalau tidak ada getarnya ke dalam hati, tandanya seluruh yang kita mintakan kepada Tuhan telah percuma belaka. Petunjuk yang kita harapkan tidaklah akan masuk ke dalam hati kita. Sebab :

“Iman ialah kata dan perbuatan, lantaran itu dia bisa bertambah dan bisa kurang. ”
Dan sembahyang itu bukan semata dikerjakan. Di dalam al­Qur’an atau di dalam hadits tidak pernah tersebut suruhan mengerjakan sembahyang, melainkan mendirikan sembahyang.

Tandanya sembahyang itu wajib dikerjakan dengan kesadaran, bukan sebagai mesin yang bergerak saja. Dan yang menarik hati lagi, ialah 27 kali lipat pahala sembahyang berjama’ah daripada sembahyang sendiri. sehingga orang yang berumah dekat masjid atau Ianggar, sernbahyangnya di masjid lebih diutamakan daripada sembahyangnya menyendiri di rumah.

Malahan ada hadits yang mengatakan bahwa jiran masjid hendaklah sembahyang di masjid. Nantipun akan berjumpa kita dengan ayat 38 dan Surat as Syura (Surat 53), bahwa mukmin sejati itu ialah yang segera mengabulkan panggilan Tuhan, lalu bersembahyang dan segala urusan mereka, mereka musyawarahkan di antara mereka. Tandanya sembahyang itupun hendaklah menimbulkan masyarakat yang baik dan musyawarah yang baik pula .

Keterangan tentang sembahyang akan berkali-kali berjumpa dalam al-Qur°an kelak. Dan setelah mereka buktikan iman dengan sembahyang, merekapun mendermakan rezeki yang diberikan Allah kepada mereka.

Itulah tingkat ketiga atau syarat ketiga dari pengakuan iman. Ditingkat pertama percaya kepada yang ghaib dan kepercayaan kepada yang ghaib dibuktikan dengan sembahyang, sebab hatinya dihadapkannya kepada Allah yang diimaninya. Maka dengan kesukaan memberi, berderma, bersedekah, membantu dan menolong, imannya telah dibuktikannya pula kepada masyarakat. Orang mukmin tidak mungkin hidup nafsi-nafsi dalam dunia. Orang mukmin tidak mungkin menjadi budak dari benda, sehingga dia lebih mencintai benda pemberian Allah itu daripada sesamanya rnanusia. Orang yang mukmin apabila dia ada kemampuan, karena imannya sangatlah dia percaya bahwa dia hanya saluran saja dari Tuhan untuk membantu hamba Allah yang lemah.

وَ الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ
“Dan Orang-orang yang percaya kepada apa yang diturunkan kepada engkau. ” (Pangkal ayat 4).

Niscaya baru sempurna iman itu kalau percaya kepada apa yang diturunkan kepada Nabi Muhammad s. a.w sebagai iman dan ikutan. Percaya kepada Allah dengan sendirinya pastilah menimbulkan percaya kepada peraturan-peraturan yang diturunkan kepada Utusan Allah, lantaran itu percaya kepada Muhammad s.a.w itu sendiri, percaya kepada wahyn dan percaya kepada contoh-contoh yang beliau bawakan dengan sunahnya, baik kata-katanya, atau perbuatannya ataupun perbuatan orang lain yang tidak dicelanya. Dengan demikianlah baru iman yang telah tumbuh tadi terpimpin dengan baik.

وَ مَا أُنْزِلَ مِن قَبْلِكَ
” Dan apa yang diturunkan sebelum engkau . ”

Yakni percaya pula bahwa sebelum Nabi Muhammad s. a.w tidak berbeda pandangan kita kepada Nuh atau Ibrahim, Musa atau Isa dan Nabi-nabi yang lain. Semua adalah Nabi kita!. Lantaran itu pula tidak berbeda pandangan orang mukmin itu terhadap sesama manusia. Bahkan adalah manusia itu umat yang satu.

Dengan demikian, kalau iman kita kepada Allah telah tumbuh, tidaklah mungkin seorang mukmin itu hanya mementingkan golongan, lalu memandang rendah golongan yang lain. Mereka mencari titik-titik pertemuan dengan orang yang berbeda agama, dalam satu kepercayaan kepada Allah Yang Tunggal tidak terbilang.

Dan tidaklah mungkin mereka mengaku beriman kepada Allah, tetapi peraturan hidup tidak mereka ambil dari apa yang diturunkan Allah. Bahkan kitab-kitab suci yang manapun yang mereka baca, entah Taurat maupun Injil, atau Upanishab dan Reg Veda, mukmin yang sejati akan bertemu di dalamnya mana yang mereka punya, sebab kebenaran hanyalah satu. Dan demikian memancarlah Nur atau cahaya daripada iman mereka itu, dan mencahayai kepada yang lain. Sebab pegangan mereka adalah pegangan yang pokok. Dan sebagai kunci ayat, Tuhan bersabda :

وَ بِالْآخِرَةِ هُمْ يُوْقِنُوْنَ
Dan kepada akhirat mereka yakin ” (ujung ayat 4 )

Inilah kunci penyempurna iman. Yaitu keyakinan bahwa hidup tidaklah selesai hingga hari ini, melainkan masih ada sambungannya. Sebab itu maka hidup seorang mukmin terus dipenuhi oleh harapan bukan oleh kemuraman; terus optimis, tidak ada pesimis. Seorang mukmin yakin Ada Hari Esok!

Kepercayaan akan Hari Akhirat mengandung arti sebagai berikut: 

1. Apa yang kita kerjakan di dunia irii adalah dengan tanggungjawab yang penuh. Bukan tanggungjawab kepada manusia, tetapi kepada Tuhan yang selalu melihat kita, walaupun sedang kita berada sendirian. Semuanya akan kita pertanggungjawabkan kelak di akhirat. Tanggungjawab bukan jawab yang tanggung.

2.. Kepercayaan kepada akhirat meyakinkan kita bahwa apa-apapun peraturan atau susunan yang berlaku dalam alam dunia ini tidaklah akan kekal; semuanya bergantian, semuanya berputar, dan yang kekal hanyalah peraturan kekal dari Allah, sampai dunia itu sendiri hancur binasa.

3. Setelah hancur alam yang ini; `I’uhan akan menciptakan alam yang lain, langimya lain, buminya lain, dan manusia dipanggil buat hidup kembali di dalam alazn yang baru dicipta itu dan akan ditentukan tempatnya sesudah penyaringan dan perhitungan amal. didunia.

4. Surga untuk yang lebih beraa amal baiknya. Neraka untuk yang lebih berat amal jahatnya. Dan semuanya dilakukan dengan adil.

5. Kepercayaan akan Hari Akhirat memberikan satu pandangan khas tentang menilai bahagia atau celaka manusia. Bukan orang yang hidup mewah dengan harta benda, yang gagah berani dan tercapai apa yang dia inginkan, bukan itu ukuran orang yang jaya. Dan bukan pula karena seorang hidup susah, rumah gubuk dan menderita yang menjadi ukuran untuk menyatakan bahwa seorang celaka. Tetapi kejayaan yang hakiki adalah pada nilai iman dan takwa disisi Allah, dihari kiamat. Yang semulia-mulia kamu disisi Allah ialah yang setakwa-takwa kamu kepada Allah. Sebab itu tersimpullah semua kepada ayat yang berikutnya :

أُولَئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ

“Mereka itulah yang herada alas petunjuk dari Tuhan mereka, dan mereka itulah orang-orang yarsg beroleh kejayaan. “ (ayat 5)

Berjalan menempuh hidup, di atas jalan Shirothol Mustaqim, dibimbing selalu oleh Tuhan, karena dia sendiri memohonkanNya pula, bertemu taufik dengan hidayat, sesuai kehendak diri dengan ridha Allah, maka beroleh kejayaan yang sejati, menempuh suatu jalan yang selalu terang benderang, sebab pelitanya terpasang dalam hati sendiri; pelita iman yang tidak pernah padam.

Wassalamualaikum,

Sumber bacaan dari : tafsir.web.id

Advertisements

One thought on “Tafsir Al – quran : Surat Albaqarah Ayat 1 – 5

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s