Standar Muslimah yang Ingin Berprofesi

Sekarang muslimah bekerja adalah suatu trend yang memang tidak bisa dilupakan lagi. Apalagi di zaman sekarang ini terbukti bahwa banyak wanita yang memilih untuk bekerja ketimbang hanya sekedar duduk manis di rumah. Hanya saja bolehkah hal itu dilakukan oleh seorang muslimah?

Ada standar tertentu bagi seorang muslimah dalam berkiprah.

  1. Pendidikan. Pendidikan bagi seorang muslimah wajib hukumnya dan memiliki tujuan yaitu: Pertama, agar wanita mampu mengurus rumah tangga. Kedua, agar wanita menguasai bidang profesi yang pantas dilakukan dan dibutuhkan. Baik oleh diri pribadi, keluarga maupun social masyarakat.

  2. Optimalisasi dan efektifitas waktu. Ada skala prioritas bagi muslimah, kapan dan dalam keadaan ia harus berkarir.

  3. Ada pihak-pihak yang bertanggungjawab tentang nafkah seorang wanita: suami, ayah dan negara. Jika ketiganya tidak mampu, maka barulah kewajiban itu jatuh padanya.

  4. Laki-laki adalah pemimpin keluarga. Poin ini bukan hanya dogma, tetapi kebutuhan akan perlindungan, bimbingan dan figur keluarga sangat bermanfaat.

  5. Menyegerakan menikah. Banyaknya fitnah di dunia kerja dapat mengganggu kinerja wanita lajang.

  6. Banyak melahirkan. Kodrat wanita adalah melahirkan dan menjadi ibu, jangan sampai kesibukan akan pekerjaan wanita lupa akan kewajiban dan kelebihan wanita yang menjadi ibu. Islam memberikan penghargaan lebih kepada seorang wanita yang banyak melahirkan dan menjadi ibu.

  7. Bertanggungjawab terhadap rumah tangga. Tidak semua tugas kerumahtanggaan dapat didelegasikan. Tapi, setiap muslimah tetap harus menjad manager di rumahnya sendiri. Tugas-tugas sosial adalah tanggungjawab bersama, sedangkan tugas rumah tangga adalah tanggungjawab pribadi.

Itulah 7 standar wanita yang ingin berprofesi. Sudahkah kita memenuhi standar itu? Jika sudah itu tidak jadi masalah jika kita ingin berprofesi.

Advertisements

6 thoughts on “Standar Muslimah yang Ingin Berprofesi

    • insyaa Allah kalau sudah memiliki anak mau sedikit atau banyak pasti bisa mengurusnya dengan baik karena rejekinya sudah diatur pula 🙂 terimakasih atas kunjungannya

      Like

      • Kenyataannya, yg saya lihat banyak yang tidak begitu sih mak. Apalagi di kampung2. Ada yang anaknya dibiarkan saja dijalan, rambut berantakan, berkeliaran, kemudian bapaknya juga entah bekerja atau tidak..bahkan sampai ditegur pak RT karena akhirnya warga yang harus mengasuh anaknya. Saya melihat soal banyak itu disesuaikan dengan jaman kala Rasulullah ada, dimana untuk membuat semakin banyak umat muslim dianjurkan memiliki anak sebanyak-banyaknya. 🙂

        Terima kasih kembali mak.

        Like

      • Iya memang, seiring jaman sih sepertinya jarang orang tua yang mengasuh anak dengan baik, namun dikembalikan pada masing – masing pribadinya. Tetangga saya anaknya banyak namun alhamdulillah beliau mendidik anaknya dengan baik. Jadi gimana personalnya kali yah :). Punya anak cukup dua aja deh yah kayaknya 😀 hihih

        Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s